Musim pancaroba kembali menjadi sorotan utama di sektor kesehatan ibu kota. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta, mencatat sebanyak 2.5 juta kasus ISPA sepanjang Januari – November 2025. Tingginya angka kasus ISPA disebabkan oleh berbagai faktor risiko, dan salah satunya adalah perubahan cuaca ekstrem di musim pancaroba.
Menangkap fenomena tersebut, Combiphar melalui program Combi Hope dalam rangkaian perayaan 55 tahun Combiphar “Sehatkan Kini, Menangkan Esok”. Mereka berkolaborasi dengan Kantor Kecamatan Pancoran menyelenggarakan edukasi kesehatan bertajuk “Waspada ISPA di Musim Pancaroba: Jaga Kesehatan Pernapasan Keluarga” di Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.
Kegiatan ini menghadirkan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis yang didukung oleh Comtusi — obat batuk yang telah lebih dari 30 tahun dipercaya dan diresepkan oleh dokter di Indonesia.
Selain itu, program ini juga mencakup penyuluhan bagi ratusan kader PKK, Posyandu, dan Dasa Wisma sebagai garda terdepan di masyarakat, guna meningkatkan pemahaman dalam mengenali jenis batuk dan memilih pengobatan yang tepat.
“Selama 55 tahun, Combiphar telah menghadirkan solusi kesehatan yang tepercaya bagi keluarga Indonesia. Sejalan dengan semangat ‘Sehatkan Kini, Menangkan Esok’, kami tidak hanya menyediakan produk, tetapi juga melakukan tindakan nyata bagi Masyarakat,” kata Weitarsa Hendarto, Direktur Combiphar dalam keterangan resminya, (15/4/2026).
“Kegiatan edukasi ini merupakan langkah konkret Combiphar untuk memperkuat pertahanan kesehatan keluarga dari lini terdepan, yaitu para ibu kader penggerak sosial pemberdayaan, kesejahteraan dan kesehatan warga,” imbuhnya.
“Kami dari Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Selatan memberikan apresiasi yang sangat luar biasa untuk Combiphar atas inisiatif edukasi kesehatan ini,” terang Debi Intan Suri, Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Selatan.
Dia menambahkan, mengingat tren kasus ISPA yang tinggi, kegiatan ini sangat krusial untuk membekali para kader PKK, Posyandu, dan Dasa Wisma dengan informasi yang akurat mengenai ISPA, gejalanya, dan bahaya yang mungkin timbul. Mengingatkan juga kalau menjaga kesehatan, mencegah penyakit harus dimulai dari diri sendiri baru ke keluarga dan lingkungan sekitar.
“Kami berharap para kader dapat terus menyebarkan pengetahuan ini kepada keluarga dan komunitas di sekitar mereka, menjadikan mereka garda terdepan dalam menjaga kesehatan pernapasan masyarakat,” kata Debi.
GM Marketing Combiphar Sandi Wijaya, menambahkan, menjelang musim pancaroba, risiko batuk meningkat signifikan. Yang sering luput, batuk bukan sekadar ketidaknyamanan, tetapi juga memiliki biaya tersembunyi, mulai dari terganggunya istirahat, menurunnya fokus, hingga berkurangnya produktivitas.
“Jika tidak ditangani dengan tepat, dampaknya dapat menjadi kerugian nyata. Karena itu, pemahaman jenis batuk dan penanganan yang tepat sangat penting,” ujar Sandi.
Sementara itu Wakil Camat Pancoran, Rudy Cahyadi, mengucapkan terima kasih kepada Combiphar atas inisiatif penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan. Apresiasi juga diberikan kepada Sudinkes Jakarta Selatan, Puskesmas Pancoran, dan jajaran lintas sektoral atas pelayanan kesehatan.
“Data Puskesmas menunjukkan kunjungan pasien ISPA di Pancoran meningkat sejak awal 2026, mencapai puncaknya (lebih dari 1.000 kunjungan) pada Februari, meskipun tren kini melandai hingga April. Ini menjadi pengingat bahwa ISPA masih tantangan kesehatan yang memerlukan upaya pengendalian berkelanjutan,” ungka[ Rudy.
“Puskesmas dan lintas sektor aktif mencegah ISPA melalui penyuluhan dan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kolaborasi lintas sektoral (kesehatan, swasta, masyarakat) sangat dibutuhkan, di mana kehadiran Combiphar menjadi contoh nyata peran sektor swasta dalam upaya promotif dan preventif Kesehatan,” lanjutnya.
Di sisi lain, dr. Clavelina Astriani selaku Sr. Medical Affairs Manager Combiphar, yang memberikan paparan pada acara tersebut, menjelaskan bahwa pada masa pancaroba, perubahan pola cuaca seperti suhu dan kelembaban dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan.
“Kondisi ini bisa memengaruhi penyebaran virus serta respons tubuh terhadap infeksi. Infeksi saluran pernapasan dapat berdampak pada kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari, sehingga penanganan yang tepat sejak awal, termasuk pemilihan terapi yang sesuai, menjadi penting,” terangnya.
Mengenai pemilihan obat batuk yang tepat, Sandi menyampaikan bahwa selama lebih dari 30 tahun, Comtusi telah dipercaya dan diresepkan oleh dokter untuk membantu meredakan batuk secara efektif.
“Melanjutkan kepercayaan tersebut, Combiphar menghadirkan varian baru Comtusi Batuk Kering dan Comtusi Batuk Berdahak yang bisa dibeli secara bebas di apotek dan toko obat agar lebih mudah diakses masyarakat. Selain efektif, produk ini juga dirancang lebih nyaman dikonsumsi dan lebih hemat dibandingkan produk sejenis,” tutur Sandi.
Dengan formula yang teruji efektif dan kini dirancang agar lebih nyaman dikonsumsi, produk ini ditawarkan dengan harga terjangkau di kisaran Rp45 ribu.
Seluruh varian Comtusi telah mendapatkan persetujuan resmi dari BPOM dan sertifikasi Halal, memberikan jaminan mutu, keamanan, dan ketenangan bagi setiap keluarga Indonesia dalam mengatasi batuk.
“Kami percaya bahwa menjaga kesehatan merupakan investasi penting untuk masa depan, termasuk dalam mencegah “biaya” yang ditimbulkan oleh batuk yang tidak tertangani dengan baik. Melalui kehadiran varian baru dari Comtusi, kami ingin terus berinovasi dan menjadi bagian dari solusi kesehatan masyarakat Indonesia, hari ini, dan untuk masa yang akan datang,” tutup Weitarsa. (FA)
