Dipertengahan tahun 2026 ini, Exabytes Indonesia kembali menggelar Indonesia Website Awards (IWA) yaitu Ajang penghargaan tahunan yang sudah berjalan sejak 2017 ini memberikan apresiasi kepada para web developer, desainer, agensi digital, dan brand yang mendaftarkan karya terbaik mereka melalui portal www.iwa.id.
Kali ini, IWA hadir dengan pesan yang lebih kuat dari sebelumnya: di era kecerdasan buatan (AI) yang berkembang pesat sekaligus menghadirkan ancaman siber baru, kepercayaan digital bukan lagi nilai tambah ia adalah syarat eksistensi sebuah bisnis online.
Lewat tema “Securing Digital Trust in the AI Threat Era”, IWA 2026 ingin menegaskan kembali peran strategis website sebagai wajah digital sebuah bisnis. Di satu sisi, AI telah menurunkan hambatan teknis secara dramatis siapa pun kini bisa membangun website dalam hitungan jam. Namun di sisi lain, AI juga memperluas permukaan serangan: deepfake, phishing otomatis, hingga eksploitasi celah keamanan berbasis AI menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi para developer dan pemilik bisnis.
Indra Hartawan, VP & Country Manager Exabytes Indonesia, menuturkan perubahan lanskap inilah yang mendorong IWA terus relevan dari tahun ke tahun.
“Tantangan terbesar para web developer saat ini bukan lagi soal tools atau tampilan. Karena proses creation itu sudah sangat mudah dengan bantuan AI. Yang paling sulit adalah membangun kepercayaan. Ada tiga hal yang harus selalu dipegang: kecepatan, keamanan, dan kepercayaan. Kepercayaan lahir dari kepatuhan regulasi data, audit keamanan yang konsisten, dan pengalaman pengguna yang tulus. Kita juga harus waspada bahwa AI kini justru lebih menguntungkan para penyerang dibanding para pembela.” jelas Indra Hartawan, VP & Country Manager Exabytes Indonesia kepada Rekan Media saat ditemui pada di Deheng House, Kemang, Jakarta Selatan Kamis (11/6/2026).
Dia menambahkan, IWA bukan sekadar ajang penghargaan, melainkan cermin kondisi industri website Indonesia.
“Dari tahun ke tahun, kriteria penilaian terus diperbarui mengikuti tren tahun ini dengan penekanan lebih besar pada authority digital dan Generative Engine Optimization (GEO), memastikan website Indonesia tidak hanya bisa ditemukan oleh manusia, tetapi juga oleh AI,” imbuhnya.
IWA 2026 menganugerahkan penghargaan dalam empat kategori: Web Excellence Commercial & E-commerce, Web Excellence Personal, Site of The Year, serta People’s Choice Digital Brand yang dipilih langsung oleh publik melalui sesi live voting. Salah satu momen paling memukau malam itu adalah ketika Ibnu dinobatkan sebagai pemenang kategori Web Excellence sekaligus Site of The Year — sebuah pencapaian yang menyimpan perjalanan panjang penuh kegigihan.
Ibnu mengawali petualangannya membangun website sejak duduk di bangku SMP, jauh sebelum AI dan tutorial YouTube berlimpah seperti sekarang. Keterbatasan akses internet membuatnya harus menumpang WiFi orang lain demi bisa belajar coding. Kini, lebih dari satu dekade kemudian, karya digitalnya berdiri di puncak industri website Indonesia.
“Dengan adanya IWA, saya merasa menjadi web developer yang dihargai dan diapresiasi karyanya. Perjalanan ini dimulai dari SMP, belajar coding dengan segala keterbatasan bahkan harus menumpang WiFi untuk bisa akses internet. Kini AI sangat membantu developer seperti saya untuk mengamankan sistem dan menciptakan desain yang lebih baik. Tapi intinya tetap sama: keamanan, desain, dan kecepatan adalah tiga hal utama yang tidak boleh dikompromikan,” ucapIbnu, Pemenang Web Excellence & Site of The Year IWA 2026.
Lebih dari itu, IWA 2026 juga menghadirkan serangkaian sesi diskusi substantif yang berlangsung sejak pukul 15.00 WIB. Slamet Aji Pamungkas, Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, membuka acara dengan keynote speech tentang lanskap ancaman siber nasional. Eryk Budi Pratama dari ICPAP mengupas bagaimana serangan berbasis AI kini bisa dilakukan bahkan oleh mereka yang minim pengetahuan teknis, sementara content creator Reza Erfit membahas tantangan membangun kepercayaan di era deepfake. Peter J. Kambey dan Rio Burhan dari Rokettt Platform & Studio menutup sesi panel dengan pembahasan praktis seputar privasi data dan keamanan website.
Alexandro Wibowo, Founder & Co-CEO Avonetiq, yang tampil sebagai pembicara Inspiring Talk, membawa perspektif pemilik bisnis ke dalam diskusi menegaskan bahwa kepercayaan digital bukan urusan teknis semata, melainkan soal akuntabilitas merek secara menyeluruh.
“Di era AI ini, semua orang bisa menjadi creator — membuat website menjadi sangat mudah. Tapi yang membedakan adalah akuntabilitas. Website harus merepresentasikan brand-nya secara utuh: dari performa, desain, keamanan, hingga bagaimana ia dipandang oleh AI. Akuntabilitas melahirkan otoritas, otoritas melahirkan kepercayaan. Indonesia sangat strategis saat ini — tools-nya sama, akses-nya sama, kesempatannya pun sama dengan seluruh dunia. Jadi jangan kalah, go global, dan bawa nama Indonesia dengan lebih baik,” kata Alexandro Wibowo, Founder & CEO Avonetiq.
Dengan IWA 2026, Exabytes Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjadi katalis pertumbuhan ekosistem digital Indonesia. Ke depan, kriteria penilaian IWA akan semakin menitikberatkan pada aspek authority dan kemampuan website untuk diindeks secara optimal oleh mesin AI generatif sebuah standar baru yang mencerminkan realitas internet yang terus berubah. Informasi selengkapnya tentang IWA dan pendaftaran untuk tahun berikutnya dapat diakses melalui www.iwa.id. (FA)
