by

Ikatan Pencinta Batik Nusantara (IPBN) Rilis Program “Dalling dan Batik Sebagai Inisiatif Pelestarian Budaya

Ikatan Pencinta Batik Nusantara (IPBN) secara resmi meluncurkan program “Dalling dan Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya”, sebuah inisiatif pelestarian budaya yang mengintegrasikan pengembangan batik khas Derawan dan Maratua, revitalisasi Tari Dalling masyarakat Suku Bajau, serta pemberdayaan generasi muda melalui kreativitas, pendidikan budaya,
dan ekonomi kreatif.

Program ini merupakan bagian dari Program Layanan Produksi Bidang Kebudayaan yang didukung oleh Dana Indonesiana (kini bernama Dana Indonesiaraya), Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, dan LPDP sebagai implementasi penguatan ekosistem pemajuan kebudayaan nasional.

Peluncuran program kali ini menjadi tonggak penting dalam membangun identitas budaya Kepulauan Derawan dan Maratua, destinasi wisata bahari unggulan Indonesia di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang selama ini lebih dikenal karena keindahan alamnya dibandingkan kekayaan budaya masyarakat pesisirnya.

Budaya sebagai Pilar Pariwisata Berkelanjutan

Pariwisata dunia bergerak menuju pendekatan yang lebih berkelanjutan, di mana budaya menjadi salah satu faktor utama yang membentuk pengalaman wisata dan memperkuat identitas suatu
destinasi. Indonesia memiliki keunggulan besar melalui keberagaman budaya yang tersebar diseluruh wilayah, termasuk budaya masyarakat pesisir di Kepulauan Derawan dan Maratua. Kabupaten Berau dikenal sebagai gerbang menuju Kepulauan Derawan dan Maratua yang terdiri atas sejumlah pulau utama, antara lain Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki.

Kawasan ini merupakan bagian dari bentang laut yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan
menjadi habitat penting bagi penyu hijau (Chelonia mydas), pari manta, lumba-lumba, whale shark, ratusan spesies karang, serta Danau Kakaban yang dikenal sebagai salah satu danau ubur-ubur tidak menyengat yang sangat langka di dunia.

Keunggulan tersebut telah menjadikan Derawan dan Maratua sebagai salah satu ikon wisata bahari Indonesia yang telah mendunia. Namun demikian, penguatan identitas budaya lokal masih menjadi
tantangan sehingga diperlukan inovasi yang menghubungkan kekayaan alam dengan ekspresi budaya masyarakat.

Program ini juga mendukung arah pembangunan nasional yang menempatkan budaya sebagai modal
sosial, penguat identitas bangsa, sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi kreatif.

Dukungan Dana Indonesiana (Dana Indonesiaraya) menunjukkan komitmen negara dalam menyediakan mekanisme pendanaan berkelanjutan bagi pelaku budaya melalui pengelolaan Dana
Abadi Kebudayaan, sehingga inisiatif masyarakat dapat berkembang secara profesional, inklusif, dan berkelanjutan.

Batik Derawan Maratua: Identitas Baru dari Laut Kalimantan Timur

Sejak UNESCO menetapkan Batik Indonesia sebagai Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2 Oktober 2009, batik memperoleh pengakuan internasional sebagai warisan budaya yang merepresentasikan filosofi, pengetahuan tradisional, dan identitas bangsa Indonesia.

Berangkat dari semangat tersebut, IPBN mengembangkan Batik Derawan Maratua sebagai identitas visual baru yang merepresentasikan kekayaan alam dan budaya pesisir Kalimantan Timur.
Berbagai unsur seperti penyu hijau, ubur-ubur tidak menyengat, ombak, arus laut, pasir putih, dan pohon nyiur diterjemahkan menjadi motif batik yang sarat makna. Pengembangan ini tidak hanya bertujuan menghasilkan karya wastra baru, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai budaya Kalimantan Timur melalui media yang memiliki daya jangkau lebih luas.

Dengan demikian, batik menjadi simbol
identitas, media promosi budaya, sekaligus peluang pengembangan ekonomi kreatif bagi masyarakat setempat.

Motif Batik Derawan Maratua ini dibangun melalui tiga karakter utama.

1. Elemen Motif : Terinspirasi dari kekayaan fauna dan flora setra keindahan alamDerawan danMaratua.

2. Elemen Warna : Biru Turquoise (biru tosca) sebagai representasi kejernihan laut tropis Derawan dan Maratua, sekaligus simbol keseimbangan antara manusia dan alam.

3. Elemen Teknik : Nitik (Kehadiran elemen titik-titik (nitik) pada setiap motif menjadi unsur wajib yang merepresentasikan karakter Batik Indoneisa, dimana mencerminkan merepresentasikan kearifan lokal serta keindahan budaya Indonesia. Sebanyak delapan motif telah dikembangkan dan akan diperkenalkan secara bertahap.

Pada peluncuran perdana diperkenalkan tiga motif utama.

1. Motif Bokko’ Lumangi : Motif ini melambangkan sosok Penyu Derawan yang melambangkan keseimbangan antara ambisi dan akar kehidupan. Gerak siripnya mencerminkan ketangguhan dan kemampuan menghadapi tantangan dengan luwes tanpa kehilangan arah. Keseluruhan makna mengajarkan bahwa keberhasilan diraih dengan tetap menjunjung nilai, adab, dan jati diri.

2. Motif Buung Embal Naban : Motif ini merepresentasikan ubur-ubur tanpa penyengat khas Pulau Kakaban melalui pendekatan stilisasi geometris yang elegan dan simetris. Penggunaan garisradial, ujung bulat, dan elemen berbentuk hati melambangkan kelembutan serta harmoni ekosistem yang aman bagi manusia. Dengan balutan warna keemasan yang eksotis, desain ini menjadi simbol keindahan sekaligus keunikan habitat langka yang menjadi kebanggaan alam Indonesia.

3. Motif Goyak :

Motif ini merepresentasikan dinamisme laut Derawan melalui susunan garis
lengkung berlapis yang menciptakan ritme harmonissekaligus menenangkan. Detail titik-titik kecil dan elemen organik di dalamnya menyimbolkan buih air serta kekayaan biota bawah laut yang
tersembunyi di balik permukaan. Melalui nuansa biru dan putih, pola yang berulang ini melambangkan kontinuitas alam sekaligus menghadirkan kesegaran khas perairan tropis Indonesia.

Tari Dalling: Tradisi yang Bertransformasi untuk Generasi Masa Kini

Tari Dalling merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Suku Bajau yang tumbuh sebagai bagian dari tradisi dan kehidupan masyarakat pesisir di Kepulauan Derawan dan Maratua. Sebagai tarian tradisional, Dalling mengandung nilai kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap
kehidupan yang erat dengan laut. Namun, seiring perubahan zaman,

eksistensi tari ini semakin jarang
dikenal, khususnya oleh generasi muda, sehingga diperlukan pendekatan baru agar tetap hidup dan relevan. Dalam pengayaan Tari Dalling yang sudah di moderinasi, Terinspirasi dari motif gerak Tari Dalling, warisan budaya masyarakat Suku Bajau di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, karya tari ini
menghadirkan kembali semangat kebersamaan dan kegembiraan yang hidup di tengah masyarakat pesisir.

Gerak-gerak khas berupa hentakan ritmis dan goyangan bahu yang lincah menjadi jejak tradisi yang terus berdenyut, kemudian dikembangkan dalam balutan kreativitas dan sentuhan modern.

Disetiap langkah dan ayunan tubuh, tersirat kisah tentang masyarakat Berau yang hangat, ramah, dan penuh sukacita. Tari ini bukan sekadar rangkaian gerak, melainkan ungkapan jiwa yang merayakan pertemuan, persahabatan, dan kebersamaan. Dahulu hadir sebagai tari pergaulan dan hiburan rakyat,
kini ruh Tari Dalling dihidupkan kembali dalam bentuk yang lebih segar tanpa meninggalkan akar budayanya.

Melalui perpaduan tradisi dan modernitas, karya ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Ia mengajak penonton menyelami keindahan budaya yang terus bergerak mengikuti zaman, sekaligus mengingatkan bahwa warisan leluhur akan tetap hidup selama ada generasi yang menjaga, mencintai dan mengembangkannya.  Seperti ombak yang tak pernah berhenti menyentuh pantai, semangat Tari Dalling diharapkan terus mengalun, menari melintasi waktu, dan tetap berkilau di tengah perubahan zaman. Melalui program ini, Tari Dalling dihadirkan kembali dalam bentuk yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisionalnya.

Proses modernisasi dilakukan melalui penyempurnaan koreografi, aransemen musik yang lebih dinamis, tata busana yang tetap merepresentasikan identitas
lokal, serta pemanfaatan media digital sebagai sarana promosi.

Aktivasi seperti Dalling TikTok Trends, pertunjukan budaya, dan berbagai kegiatan edukasi menjadi langkah untuk memperkenalkan Tari Dalling kepada masyarakat yang lebih luas. Pendekatan ini diharapkan mampu menjadikan Tari Dalling tidak hanya sebagai warisan budaya yang dilestarikan, tetapi juga sebagai ekspresi budaya yang terus berkembang, dekat dengan generasi muda, dan mampu memperkuat citra budaya Kalimantan Timur di tingkat nasional maupun internasional.

Upaya Menghidupkan Identitas Budaya Derawan dan Maratua

Ayu Dyah Pasha, Ketua Ikatan Pencinta Batik Nusantara, menegaskan bahwa pelestarian budaya membutuhkan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman mengatakan, generasi muda harus menjadi pelaku utama pelestarian budaya.

“Karena itu kami menggabungkan tradisi dengan kreativitas, teknologi digital, dan ekonomi kreatif agar budaya Derawan dan Maratua dapat dikenal lebih luas, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia,” ucap Ayu Dyah Pasha kepada Rekan Media saat ditemui di Galeri Indonesia Kaya Kamis (30/7/2026).

Sementara itu, Tuty Kusumawati, Penasehat Project, mengatakan bahwa pengembangan budaya harus menjadi bagian dari pembangunan daerah.
“Derawan dan Maratua telah dikenalsebagaisalah satu surga bahari Indonesia. Kinisaatnya kekayaan
budaya masyarakatnya memperoleh panggung yang sama. Melalui batik dan Tari Dalling, kami ingin menghadirkan identitas budaya yang kuat, membanggakan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.”

Mengajak Publik Berkolaborasi
IPBN mengajak pemerintah, media massa, akademisi, komunitas budaya, pelaku industri kreatif, sektor swasta, serta masyarakat luas untuk mendukung publikasi dan promosi program “Dalling dan Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya.” Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat identitas budaya Kalimantan Timur, meningkatkan apresiasi terhadap warisan budaya masyarakat pesisir, memperluas promosi pariwisata berbasis budaya, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam peluncuran program “Dalling dan Batik untuk Derawan, Maratua dan Budaya”, IPBN berperan sebagai pelaksana utama yang menginisiasi pengembangan motif batik khas Derawan dan Maratua serta aktivasi budaya melalui Tari Dalling. (FA)