“Angka tidak berbohong, begitu pula AI. Orang-orang dibelakangnyalah yang
berbohong dan memutarbalikkan kebenaran. Itu sebabnya ini tidak semata tentang teknologi. Namun demikian, fokus utamanya adalah etika dan sumberdaya manusia untuk menjadi garda terdepan dalam memerangi kecurangan keuangan yang digerakkan oleh AI.”
Ungkapan di atas adalah penggalan yang disampaikan oleh Prof. Gatot Soepriyanto, S.E., Ak., M.Buss (Acc)., Ph.D., CA., CFE dalam orasi ilmiah berjudul “Fraud, lies, and algorithms; how organizations should adapt to the artificial intelligence-driven financial fraud.” Orasi Ilmiah merupakan bagian dari seremoni acara Pengukuhan Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Fraud Examination atas dirinya.
Mengawali orasinya, ia mengangkat evolusi kecurangan keuangan yang difasilitasi oleh teknologi digital saat ini. Menurutnya, kecurangan keuangan
telah mengalami transformasi yang signifikan. Kemunculan internet, sistem pembayaran digital, dan analisis data telah membuat kecurangan dan kejahatan menjadi lebih canggih dan lebih sulit dideteksi.
Belum lagi, munculnya AI generatif (GenAI) yang semakin canggih, namun terjangkau, makin mendorong meningkatnya penipuan dengan menggunakan AI. Deloitte’s Center for
Financial Services memprediksi bahwa AI generatif dapat menyebabkan kerugianbakibat kecurangan mencapai USD 40 miliar di Amerika Serikat pada tahun 2022. Angka ini meningkat tajam dari USD 12,3 miliar pada tahun 2023, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 32% (Deloitte, 2024).
Menurutnya lagi, meningkatnya kompleksitas kecurangan membutuhkan teori dan pendekatan baru untuk memahami dan mencegahnya.
Ia menjelaskan perilaku curang tersebut dengan teori dasar yang disebut Segitiga Kecurangan (Fraud Triangle) yang terdiri dari tiga komponen: Tekanan/insentif, Kesempatan, dan Rasionalisasi.
“Tekanan/insentif mengacu pada tekanan/insentif keuangan atau pribadi yang mendorong seseorang untuk melakukan kecurangan. Kesempatan adalah kemampuan yang dirasakan untuk melakukan kecurangan tanpa ketahuan, sementara Rasionalisasi melibatkan pembenaran atas perilaku curang,” jelas Prof Gatot dalam keterangan tertulisnya Senin (9/9/2024).
Dia menambahkan bahwa AI dimanfaatkan antara lain untuk otomatisasi tugas-tugas rutin, meningkatkan kemampuan analitis, memungkinkan audit secara real-time, dan meningkatkan kepedulian terhadap perlunya etika.
Selain itu, ia juga memberikan klasifikasi keuangan yang digerakkan oleh AI ke dalam kuadran berdasarkan “dampak/keuntungan” dan “tingkat kesulitan deteksi/pertahanan,” organisasi dapat secara strategis memprioritaskan sumber daya dan mekanisme pertahanan.
“Teknik-teknik berisiko tinggi seperti Algorithmic trading manipulation, Automated money laundering, dan Synthetics identify fraud serta Data Manipulation diidentifikasi sebagai teknik yang memerlukan perhatian paling besar karena potensi kerugian finansial yang signifikan dan kesulitan dalam mendeteksinya,” imbuhnya.
Pengembangan dan Adapatasi Teori Kecurangan Keuangan
Untuk mengatasi kompleksitas yang ditimbulkan oleh kecurangan keuangan yang digerakkan oleh AI, maka perlu dilakukan adaptasi terhadap teori-teori kecurangan yang sudah ada. Prof. Gatot mengusulkan Fraud Tetrahedron, sebuah evolusi dari Segitiga Kecurangan tradisional, dengan menambahkan komponen keempat: Etika & Tata Kelola AI.
Konsep Fraud Tetrahedron mengakui bahwa meskipun Tekanan, Peluang dan Rasionalisasi tetap menjadi pusat untuk memahami motivasi kecurangan, adanya perkembangan AI memerlukan fokus pada penggunaan dan tata kelola teknologi AI yang etis.
Disi lain, Organisasi harus memastikan bahwa sistem AI dirancang, digunakan, dan dipantau dengan mempertimbangkan pertimbangan etika. Struktur tata kelola yang kuat sangat penting untuk mencegah AI disalahgunakan dengan cara-cara yang
memfasilitasi kecurangan.
Peran Dunia Pendidikan Dalam Menghadapi Kecurangan Keuangan Yang Digerakkan Oleh AI
Sebagai Akademisi, Prof. Gatot memandang pentingnya sektor pendidikan memainkan peran dalam menghadapi kecurangan keuangan yang digerakkan oleh AI.
Menurutnya, dengan berfokus pada pendidikan dan pengembangan keterampilan, memimpin penelitian dan inovasi, serta meningkatkan kesadaran publik, lembaga-lembaga ini dapat membekali tenaga kerja masa depan dengan pengetahuan dan alat yang diperlukan untuk menghadapi ancaman kecurangan yang canggih.
Selanjutnya, program interdisipliner, peluang pembelajaran berkelanjutan, dan pengembangan AI yang etis adalah prioritas utama dalam mempersiapkan para profesional untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh AI di bidang keuangan.
Prof. Gatot menutup orasi ilmiahnya dengan kesimpulan bahwa meskipun AI memberikan peluang besar untuk pertumbuhan dan efisiensi, AI juga membawa risiko yang signifikan. Dengan secara proaktif menghadapi risiko ini melalui perencanaan strategis, tata kelola yang kuat, dan pembelajaran berkelanjutan, organisasi dan lembaga pendidikan dapat melindungi integritas sistem keuangan dari ancaman kecurangan yang digerakkan oleh AI yang terus berkembang. (FA)
