Teknologi Artificial Intelligence (AI) berkembang dengan sangat cepat dan mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari hari masyarakat. AI kini hadir dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, layanan publik, hingga cara masyarakat mengakses informasi dan membangun produktivitas digital.
Karena itu, inklusivitas dalam pengembangan dan pemanfaatan AI menjadi hal yang sangat penting. Penyandang disabilitas perlu dilibatkan tidak hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem digital yang turut bertumbuh, berkontribusi, dan menciptakan dampak sosial yang lebih luas.
Melihat pentingnya penguatan kapasitas talenta digital di Indonesia, pada tahun 2024 Microsoft bersama Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia meluncurkan program elevAIte Indonesia. Program ini bertujuan membekali 1 juta talenta Indonesia dengan keterampilan AI yang relevan untuk menghadapi era transformasi digital.
Program tersebut lahir dari semangat bahwa transformasi digital harus dapat diakses oleh semua kalangan tanpa terkecuali, termasuk perempuan, pemuda, kelompok rentan, dan komunitas penyandang disabilitas.
Dalam implementasinya, Microsoft bersama berbagai mitra strategis membangun pendekatan kolaboratif lintas sektor untuk memastikan akses pembelajaran AI dapat menjangkau lebih banyak masyarakat di berbagai daerah, sekaligus memperkuat kesiapan talenta digital Indonesia dalam menghadapi kebutuhan industri yang terus berkembang.
Kolaborasi ini melibatkan organisasi masyarakat sipil, komunitas disabilitas, institusi pendidikan, pemerintah daerah, fasilitator komunitas, hingga berbagai jaringan lokal yang berperan dalam memperluas akses literasi AI yang inklusif dan berkelanjutan.
Lebih dari itu, kolaborasi ini melibatkan organisasi masyarakat sipil, komunitas disabilitas, institusi pendidikan, pemerintah daerah, fasilitator komunitas, hingga berbagai jaringan lokal yang berperan dalam memperluas akses literasi AI yang inklusif dan berkelanjutan.
Pada tahun 2024, Alunjiva Indonesia turut menjadi bagian dalam inisiatif tersebut sebagai mitra pemberdayaan.
Alunjiva Indonesia mendorong terciptanya ekosistem pembelajaran AI yang lebih inklusif, aksesibel, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Implementasi program dilakukan bersama komunitas lokal, organisasi penyandang disabilitas, institusi pendidikan, pemerintah daerah, serta jaringan fasilitator daerah yang berperan sebagai local champion dalam memperluas literasi AI di wilayahnya masing-masing.
Pendekatan inklusif dalam program ini juga diwujudkan melalui penyediaan materi pembelajaran yang lebih aksesibel, pelibatan fasilitator penyandang disabilitas, serta penguatan ruang belajar berbasis komunitas yang memungkinkan peserta saling belajar dan bertumbuh bersama. Dengan demikian, inklusivitas tidak hanya dipahami sebagai perluasan akses, tetapi juga sebagai upaya memastikan partisipasi yang bermakna dalam transformasi digital.
Selain berfokus pada pelatihan, program EQUAL juga mendorong terbentuknya jaringan kolaborasi dan pembelajaran jangka panjang antar komunitas, fasilitator, institusi pendidikan, dan mitra daerah. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan ekosistem AI inklusif di Indonesia, sekaligus membuka lebih banyak peluang kolaborasi untuk pengembangan kapasitas digital di masa mendatang.
Tak cukup sampai disitu, Summit ini menjadi ruang konsolidasi lintas sektor untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun ekosistem AI yang inklusif, aksesibel, dan berkelanjutan di Indonesia. Melalui keterlibatan pemerintah, sektor swasta, komunitas, organisasi penyandang disabilitas, akademisi, dan mitra lokal, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong lahirnya kolaborasi yang lebih sistematis dalam pengembangan talenta digital yang setara bagi semua kelompok masyarakat.
Melalui program EQUAL, Microsoft dan Alunjiva Indonesia berharap pengembangan teknologi AI di Indonesia tidak hanya berfokus pada inovasi, tetapi juga pada nilai kesetaraan, aksesibilitas, dan partisipasi yang inklusif.
Pada kesempatan yang sama, penguatan keterampilan AI diharapkan dapat mendorong peningkatan produktivitas, membuka peluang ekonomi baru, serta memperkuat daya saing talenta Indonesia di era digital.Transformasi digital yang berkelanjutan perlu memastikan bahwa perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas memiliki ruang yang setara untuk belajar, berkembang, dan menjadi bagian dari masa depan digital Indonesia.
Sejak pelaksanaan batch pertama hingga 30 Juni 2025, program ini telah memberdayakan sebanyak 211.377 learner di berbagai wilayah Indonesia. Sementara pada batch kedua hingga 30 April 2026, jumlah learner yang berhasil dijangkau mencapai 112.058 peserta, yang diantaranya adalah disabilitas 66.574 dan 45.484 perempuan dan pemuda. Capaian ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap penguatan kapasitas AI yang inklusif dan mudah diakses.
Sebagai penutup rangkaian program EQUAL, diselenggarakan EQUAL Convening Summit bertajuk “Merayakan Perjalanan, Membangun Masa Depan AI yang Inklusif” pada 25 Mei 2026 di Gedung Komisi Nasional Disabilitas. Kegiatan ini menghadirkan berbagai tokoh lintas sektor, di antaranya Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Meutya Viada Hafid, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Presiden Direktur Microsoft Indonesia Dharma Simorangkir, Komisioner KND Jonna Aman Damanik, Pembina Setara Berdaya Group Ridha D. M. Wirakusumah serta berbagai tamu undangan lainnya. Summit ini bertujuan memperkuat kolaborasi multipihak dalam membangun ekosistem AI yang inklusif dan aksesibel bagi perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas di Indonesia. Kegiatan ini diikuti lebih dari 350 peserta penyandang disabilitas dari wilayah Jabodetabek.
Selain prosesi summit program, kegiatan ini juga menghadirkan diskusi publik bertema “Regulasi AI di Indonesia dan Pentingnya Pemahaman Inklusivitas dalam Regulasi AI” yang dimoderatori oleh Co-Founder Alunjiva Indonesia Fany Efrita.
Diskusi menghadirkan Muhammad Ridwan Rauf dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Arief Suseno, serta Edi Suwanto, fasilitator EQUAL Batch 2 penyandang disabilitas netra, untuk membahas pentingnya regulasi dan pengembangan AI yang lebih inklusif di Indonesia.
President Director Microsoft Indonesia Dharma Simorangkir berharap teknologi AI dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, sekaligus mendorong produktivitas dan kesiapan talenta Indonesia di era digital.menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting dalam memastikan teknologi AI dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Microsoft percaya bahwa AI bukan hanya sekedar teknologi, tetapi penggerak produktivitas dan peluang ekonomi di Indonesia. Melalui kolaborasi dengan mitra seperti Alunjiva, kami mendorong pemanfaatan teknologi seperti Microsoft Copilot untuk membantu lebih banyak masyarakat—termasuk perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas mengembangkan keterampilan baru, meningkatkan produktivitas, dan berpartisipasi aktif dalam ekonomi digitalMicrosoft percaya bahwa teknologi AI harus dapat diakses dan dimanfaatkan oleh lebih banyak masyarakat secara inklusif. Melalui kolaborasi bersama berbagai mitra, salah satunya Alunjiva Indonesia, kami mendorong penguatan keterampilan AI dan pemanfaatan Microsoft Copilot agar perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas dapat lebih siap menghadapi transformasi digital dan membuka peluang baru di masa depan,” ujar Dharma Simorangkir dalam keterangan tertulisnya Senin (25/52026).
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat juga menyampaikan “Teknologi AI sejatinya bukan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk meluaskan ruang kesempatan. Penguasaan AI menjadi jembatan krusial: mempercepat langkah UMKM lokal agar naik kelas, sekaligus mendobrak keterbatasan bagi kawan-kawan penyandang disabilitas untuk mandiri dan berdaya. Di era digital, inklusivitas bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan,” tuturnya.
Pembina Setara Berdaya Group Ridha D. M. Wirakusumah menyampaikan bahwa pengembangan ekosistem AI yang inklusif membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah, sektor swasta, komunitas, dan masyarakat sipil.
“Bahwa teknologi akan memberikan dampak yang lebih besar ketika masyarakat marginal tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam proses transformasi digital dan pengembangan inovasi di Indonesia,” tuturnya.
Sementara itu, Nicky Clara, founder Alunjiva Indonesia menegaskan bahwa pendekatan berbasis komunitas menjadi salah satu kunci penting dalam membangun ekosistem pembelajaran AI yang inklusif dan berkelanjutan.
“Bagi banyak kelompok rentan dan penyandang disabilitas, akses terhadap teknologi masih menjadi tantangan. Karena itu kami percaya bahwa literasi AI perlu dibangun dengan pendekatan yang inklusif, mudah dipahami, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat sehari hari. Melalui program EQUAL, kami ingin memastikan bahwa AI tidak hanya dipahami sebagai teknologi masa depan, tetapi juga menjadi alat pemberdayaan yang dapat membuka akses, meningkatkan kapasitas, dan menciptakan peluang baru bagi semua orang,” ucapnya.
Ke depan, program EQUAL akan terus dikembangkan melalui visi jangka panjang yang berfokus pada pembentukan ekosistem pembelajaran dan pemberdayaan yang berkelanjutan. Pendekatan tersebut dirancang melalui tahapan Training, Local Champion, Changemaker, hingga Sustainable Ecosystem.
Melalui skema tersebut, fasilitator yang aktif dan konsisten sejak batch awal diharapkan dapat berkembang menjadi penggerak perubahan dan pemimpin komunitas di daerah masing masing.
Program ini juga akan memperkuat kolaborasi lanjutan, peningkatan kapasitas, serta membangun komunitas local champion agar dampak program dapat terus tumbuh secara mandiri di berbagai wilayah Indonesia.
Kolaborasi antara Microsoft dan Alunjiva Indonesia melalui program EQUAL menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi digital yang lebih inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan. Sebab masa depan teknologi tidak seharusnya hanya dimiliki oleh sebagian orang, tetapi harus dapat diakses dan memberi manfaat bagi semua. (FA)








![[JD.ID] Pengguntingan Pita Gerai Wellio di Kota Kasablanka_24 Nov 2021](https://storypreneur.id/wp-content/uploads/2021/11/JD.ID-Pengguntingan-Pita-Gerai-Wellio-di-Kota-Kasablanka_24-Nov-2021-150x150.jpg)


Comment