Lebih dari 700 pemimpin perusahaan, pemilik bisnis, praktisi teknologi, dan profesional lintas industri berkumpul dalam Mekari Conference 2026 bertajuk “AI at Work”, sebuah forum yang mempertemukan para pemikir, pembuat kebijakan, dan pelaku transformasi digital untuk membahas bagaimana kecerdasan buatan (AI) akan membentuk masa depan bisnis Indonesia. Di tengah tingginya antusiasme terhadap AI, konferensi ini menyoroti tantangan yang semakin nyata: bagaimana organisasi dapat memanfaatkan AI secara aman, produktif, dan bertanggung jawab tanpa mengorbankan keamanan data maupun kualitas pengambilan keputusan manusia. Momentum tersebut hadir di saat Indonesia menunjukkan percepatan adopsi AI yang signifikan.
Berdasarkan laporan ASEAN Intelligence 2026 menunjukkan bahwa 62% perusahaan Indonesia telah menjadi first mover dalam adopsi AI di kawasan Asia Tenggara. Sementara itu, survei Salesforce 2026 menunjukkan 70% pekerja Indonesia merasa lebih percaya diri menggunakan AI di tempat kerja karena kebiasaan personal mereka, namun baru 33% yang mendapatkan pelatihan AI resmi dari perusahaan
Survei ini menunjukkan tingginya antusiasme pekerja terhadap AI belum sepenuhnya diimbangi kesiapan organisasi. Data lain menunjukkan baru sekitar 26% perusahaan di Indonesia yang berhasil mengintegrasikan AI secara penuh ke dalam operasional bisnis.
Kesenjangan ini memunculkan fenomena Shadow AI, situasi ketika karyawan menggunakan aplikasi AI pribadi atau tidak terotorisasi untuk menyelesaikan pekerjaan kantor, sehingga meningkatkan risiko kebocoran data dan pelanggaran privasi perusahaan.
Forum Strategis yang Mempertemukan Para Pemimpin AI Global dan Nasional
Memperkuat posisinya sebagai salah satu konferensi AI bisnis terbesar di Indonesia, Mekari Conference 2026 menghadirkan deretan pembicara dari organisasi yang berada di garis depan perkembangan teknologi global maupun transformasi digital nasional.
Pertama Partners, Indonesia’s AI Opportunity: Unlocking the Potential of 65 Million MSMEs, Pertama Partners Insights, https://www.pertamapartners.com/insights/indonesia-ai-opportunity-65-million-msmes (diakses 21 September 2026).
Salesforce, “Survei Knowledge Worker Indonesia,” dipresentasikan pada acara Agentforce World Tour Jakarta, Jakarta, 2026.
1 The Business Times Insights: Asean Intelligence 2026 – The Business Times
Di antara tokoh yang hadir adalah Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia periode 2014–2019; Sandy Kunvatanagarn, Head of Policy Southeast Asia OpenAI; Anthony Amni, Country Manager AWS Indonesia; Aldo Rambie, Head of Industry Meta Indonesia; Prof. Rhenald Kasali, Founder Rumah Perubahan dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia; Dr. Wani Sabu, Senior Advisor Fraud Banking Investigation BCA; Risman Adnan, Chief Technology Officer Paragon Corp; serta sejumlah pemimpin bisnis, regulator, dan praktisi teknologi lainnya.
Kehadiran para pembicara tersebut menghadirkan perspektif yang komprehensif mengenai masa depan AI, mulai dari arah kebijakan publik, kesiapan infrastruktur digital, keamanan data, tata kelola teknologi, transformasi budaya kerja, hingga implementasi AI yang menghasilkan dampak bisnis nyata.
Melalui rangkaian diskusi panel dan paparan utama, para peserta diajak mengeksplorasi spektrum isu strategis yang paling mendesak bagi dunia usaha saat ini. Pembahasan dibuka dengan membedah masa depan produktivitas serta daya saing ekonomi nasional, yang disusul oleh perancangan strategi membangun organisasi berbasis AI (AI-Powered Enterprise).
Konferensi ini juga secara khusus menyoroti aspek tata kelola teknologi, keamanan data, serta mitigasi risiko Shadow AI yang kian marak.
Menjawab Tantangan Shadow AI Melalui Ekosistem AI yang Aman
Dalam sesi pembukaan konferensi, Suwandi Soh, Chief Executive Officer (CEO) Mekari, menegaskan bahwa tantangan terbesar perusahaan saat ini bukan lagi apakah AI akan digunakan, melainkan bagaimana memastikan AI digunakan secara aman dan bertanggung jawab.
“Pekerja Indonesia memiliki antusiasme yang luar biasa terhadap AI. Namun ketika perusahaan tidak menyediakan infrastruktur yang memadai, karyawan akan mencari solusi sendiri. Di sinilah risiko Shadow AI muncul. Tantangan kita bukan menghentikan penggunaan AI, tetapi menyediakan AI yang aman, terintegrasi, dan sesuai kebutuhan bisnis. Melalui Mekari Airene, kami membawa AI langsung ke dalam alur kerja bisnis sehari-hari dengan fondasi keamanan yang didukung sertifikasi ISO/IEC 27001 dan ISO/IEC 27701,” ujar Suwandi Soh kepada Rekan Media saat ditemui di Rafles Hotel Jakarta Selasa (29/9/2026).
Suwandi juga menekankan bahwa AI seharusnya tidak menggantikan manusia, melainkan memperkuat kemampuan profesional dalam berpikir kritis, menganalisis informasi, dan mengambil keputusan yang lebih baik. Pendekatan ini diwujudkan melalui filosofi Human-in-the-Loop, di mana AI menangani pekerjaan repetitif dan analisis data, sementara keputusan strategis tetap berada di tangan manusia.
Inovasi ini sejalan dengan temuan data internal Mekari AI Intelligence Report yang mencatatkan lonjakan adopsi AI masif di berbagai fungsi operasional perusahaan:
● Fungsi Sales & CRM: Adopsi fitur AI pada Mekari Qontak melonjak hingga 7,8 kali lipat, didorong oleh kebutuhan perusahaan untuk merespons interaksi pelanggan secara instan.
● Fungsi HR & Rekrutmen: Penggunaan AI pada Mekari Talenta tumbuh hingga 138%, khususnya pada fitur otomatisasi analisis kualifikasi dan candidate scoring.
● Fungsi Keuangan & Operasional: Integrasi AI Airene Anomaly Checker pada Mekari Jurnal & Expense (XPM) terus meningkat untuk memindai transaksi keuangan dan mendeteksi potensi pembengkakan anggaran secara real-time
Dari Wacana Menjadi Dampak Nyata: Studi Kasus Dermaster
Selain menghadirkan diskusi strategis, Mekari Conference 2026 juga menampilkan berbagai contoh implementasi AI yang telah memberikan dampak nyata bagi operasional bisnis. Salah satunya datang dari Dermaster, jaringan klinik estetika yang memanfaatkan teknologi Conversational AI melalui Mekari Qontak untuk mengelola ribuan interaksi pelanggan setiap harinya. Menurut Dicky Ie, Director of Sales & Operational Dermaster, integrasi AI pada saluran komunikasi pelanggan memungkinkan perusahaan memangkas waktu respons dari hitungan jam menjadi hitungan menit, sekaligus meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi operasional.
“Kecepatan dan presisi merupakan fondasi kepercayaan pelanggan. Dengan dukungan AI, tim kami dapat mengurangi pekerjaan administratif yang berulang dan lebih fokus menghadirkan pengalaman pelanggan yang personal. Dampaknya tidak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga membantu mendorong pertumbuhan bisnis,” ujar Dicky Ie.
Studi kasus tersebut memperlihatkan bagaimana AI dapat berfungsi sebagai katalis pertumbuhan bisnis ketika diterapkan secara strategis, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan. (FA)








Comment