Di tengah keriuhan ajang lari JRF, berbagai momen menarik mulai tradisi cheering di sepanjang rute hingga kegiatan unik yang menyita perhatian para pelari. Tampak hal tidak biasa yaitu ada gerobak getuk membagikan getuk manis warna-warni beralaskan daun pisang dengan taburan kelapa parut. Di hari kedua pun semakin ramai, para
pelari dan non pelari mencari titik dimana si getuk manis dibagikan, lengkap dengan sebutan ‘Gerobak Getuk Kalcer’, karena abang penjual getuk berpakaian layaknya pelari kalcer.
Ada apa kuliner khas Magelang tiba-tiba muncul di ajang lari pekan lalu?
Ada yang berbeda dari kehadiran kuliner khas Magelang di ajang lari pekan lalu. Melalui video berdurasi 2 menit 22 detik yang dihadirkan, terungkap cerita di balik aktivasi Rute
Getuk, sebuah pengalaman berlari yang mengajak pelari mengenal Magelang lebih dekat, melalui suasana kota, keramahan warganya, hingga tradisi kuliner yang telah menjadi bagian
dari keseharian masyarakat.
Dengan mengusung semangat Run Your Culture, Rute Getuk menghadirkan pengalaman berlari yang penuh cerita, tak hanya tentang mengejar personal best (PB). Di kota yang tenang dengan suasana kultural yang kuat ini, para pelari diajak menyusuri sudut-sudut
Magelang, bertegur sapa dengan warga setempat, menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, dan tentu saja mencicipi getuk, kudapan yang lekat dengan identitas kota ini.
Di balik rute tersebut, tersimpan kisah perjalanan keluarga pemilik Getuk Sri Rahayu yang telah membuat dan menjual getuk sejak 1940-an. Sang pemilik, Sri Rahayu, merupakan
generasi ketiga sekaligus cucu dari Ali Mohtar, warga Dusun Karet yang dikenal sebagai pencipta getuk khas Magelang, sehingga resep dan tradisi ini diwariskan langsung dari keluarga yang pertama kali membuatnya. Setiap harinya, mereka menempuh perjalanan sejauh 4,6 km dari Desa Karet menuju Pasar Rejowinangun untuk membawa getuk hingga ke tangan pembeli. Perjalanan yang telah berlangsung lintas generasi ini menjadi bagian dari cerita yang ingin ditelusuri para pelari, menghadirkan kesempatan untuk mengenal Magelang
bukan hanya dari tempat-tempat yang dilewati, tetapi juga dari kisah orang-orang yang tumbuh bersama kotanya.
Bagi Michelle Lovelyn, yang mulai berlari pada 2017 setelah diajak teman, pengalaman ini membawanya kembali pada hal-hal sederhana yang membuatnya menyukai olahraga lari.
Ada kepuasan saat berhasil melampaui batas kemampuan diri, tetapi ada pula kesenangan tersendiri ketika bisa menikmati perjalanan tanpa harus selalu memikirkan performa. Kisah keluarga Getuk Sri Rahayu menjadi salah satu hal yang paling membekas bagi Michelle.
Ia mengagumi ketekunan mereka dalam mempertahankan tradisi membuat dan menjual getuk selama puluhan tahun. Membayangkan perjalanan yang dahulu ditempuh menggunakan sepeda atau kuda, melewati medan dengan elevasi yang cukup menantang, membuatnya melihat rute tersebut dengan perspektif berbeda. Baginya, mengikuti jejak
perjalanan itu bukan sekadar pengalaman berlari di tempat baru, tetapi juga pengingat bahwa passion terhadap lari dapat terus tumbuh melalui cerita dan pengalaman yang ditemui di sepanjang jalan.
Sementara itu, bagi Irvin Iskandar, Magelang meninggalkan kesan melalui suasananya yang tenang, udara pagi yang sejuk, serta keramahan warga yang ditemui sepanjang perjalanan.
Kontur jalan yang terdiri dari tanjakan dan turunan menghadirkan tantangan tersendiri, tetapi juga membuat pengalaman berlari terasa lebih dinamis. Di sela-sela langkahnya, pemandangan dan tempat-tempat khas yang dilewati memberinya kesempatan untuk
menikmati Magelang dari sudut pandang yang berbeda, jauh dari rutinitas berlari yang biasa ia jalani.
Pengalaman serupa, dengan cerita yang berbeda, juga dirasakan oleh M. Doni Maulana, yang mulai berlari pada 2022 dan konsisten menekuninya sejak 2023.
Bagi Doni, kesederhanaan lari membuat olahraga ini mudah menjadi bagian dari gaya hidup. Namun, perjalanan di Magelang memberinya kesempatan untuk menikmati sisi lain dari aktivitas yang ditekuninya. Menyusuri kota sambil mengenal budaya dan kuliner setempat membuat lari terasa seperti cara yang menyenangkan untuk menjelajah, sekaligus menemukan cerita yang mungkin luput jika hanya berfokus pada pace dan jarak.
Dari perjalanan Michelle yang menemukan kembali passion-nya, pengalaman Irvin menikmati karakter kota, hingga cara Doni memaknai lari sebagai bagian dari eksplorasi, Rute Getuk menghadirkan cerita yang berbeda bagi setiap pelari. Hal-hal sederhana yang ditemui sepanjang perjalanan, mulai dari sapaan warga hingga kisah di balik kuliner lokal, memberi pengalaman yang tak selalu bisa diukur melalui capaian angka di jam tangan.
Rute Getuk menjadi salah satu wujud semangat Run Your Culture yang diusung PUMA melalui DNA Deviate Pure, yang lekat dengan kultur dan komunitas lari. Semangat ini dimulai dari rangkaian event lari bersama komunitas di empat kota, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali, yang masing-masing memiliki scene dan komunitas berbeda. Keragaman itu dirayakan di setiap kota, lalu dibawa untuk menyatu di BORMAR 2026 dalam satu momen lari bersama.
Pada akhirnya, perjalanan di Magelang menjadi pengingat bahwa ada banyak hal yang bisa ditemukan ketika kita memberi ruang untuk menikmati setiap langkah. Bukan hanya tentang seberapa cepat mencapai garis finis, tetapi juga tentang tempat yang dijelajahi, orang-orang yang ditemui, dan cerita yang dibawa pulang. Karena terkadang, pengalaman berlari yang paling membekas justru hadir ketika kita melangkah lebih jauh dari sekadar mengejar waktu. (FA)







![[JD.ID] Pengguntingan Pita Gerai Wellio di Kota Kasablanka_24 Nov 2021](https://storypreneur.id/wp-content/uploads/2021/11/JD.ID-Pengguntingan-Pita-Gerai-Wellio-di-Kota-Kasablanka_24-Nov-2021-150x150.jpg)



Comment