Bertepatan dengan Hari Obesitas Sedunia ditahun 2026 ini, Nutrifood bersama dengan Kementerian Kesehatan RI mengajak masyarakat untuk cermat dalam memilih pangan olahan guna mencegah obesitas.
Program ini merupakan bagian dari kampanye edukatif #BatasiGGL sebagai upaya pencegahan penyakit tidak menular yang telah dilakukan oleh Nutrifood bersama dengan Kementerian Kesehatan dan BPOM sejak tahun 2013.
Kampanye #BatasiGGL ini mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), serta meningkatkan literasi membaca label kemasan pangan olahan.
Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian Kesehatan RI menjelaskan data prevalensi obesitas di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini menegaskan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang berdampak serius terhadap kesehatan dan bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup semata.

Menurut dia, sebagian besar asupan kalori harian masyarakat sebenarnya masih berasal dari pangan olahan dan siap saji. Karena itu, yang terpenting adalah menerapkan pola makan seimbang, memperhatikan porsi, serta menghindari konsumsi berlebihan agar risiko obesitas dapat ditekan.
“Di tengah gaya hidup modern, konsumsi pangan olahan tidak dapat dihindari. Namun, masyarakat perlu mampu mengenali informasi nilai gizi dan komposisi pada kemasan, sehingga pangan olahan yang dikonsumsi justru dapat membantu mengurangi risiko obesitas,” jelas Dr. Siti Nadia Tarmizi diacara buka puasa bersama Media saat ditemui di Bunga Rampai, Menteng Jakarta Selasa (3/3/2026).
“Pesan berikutnya adalah lakukan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan manfaatkan bulan Ramadhan ini untuk melatih diri kita mengurangi konsumsi gula, garam dan lemak bukan hanya menahan lapar dan dahaga,” imbuhnya.
Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana S.T.P., M.Sc., PD.Eng mengatakan “Pangan olahan dan siap saji yang beredar saat ini sangat beragam Konsumen tetap perlu memperhatikan informasi pada label kemasan, seperti takaran saji, energi total, persentase AKG, serta komposisi bahan. Dengan memahami informasi tersebut, masyarakat dapat mengontrol asupan gula, garam, dan lemak sesuai kebutuhan hariannya.”
Dari perspektif akademisi, Direktur SEAFAST Center IPB, Dr. Puspo Edi Giriwono, STP., Magr., menjelaskan bahwa sebenarnya teknologi pangan modern dirancang untuk menjamin keamanan dan kualitas produk, masa simpan hingga pengurangan dampak lingkungan. Namun, tantangan yang muncul adalah bagaimana masyarakat memahami proses pengolahan, bahan dan ingredien yang digunakan, serta informasi yang tertera di kemasan. Pangan olahan adalah bagian dari sistem pangan modern yang dihasilkan melalui proses berlandaskan sains dan teknologi untuk meningkatkan keamanan, mutu, masa simpan, dan kemudahan konsumsi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari.
“Bahan tambahan pangan yang tercantum pada kemasan digunakan untuk menghasilkan produk yang baik dan telah melalui kajian keamanan serta batas aman konsumsi, sehingga aman dikonsumsi sesuai ketentuan. Proses pengolahan pangan yang direkomendasikan adalah proses yang mengutamakan keamanan, menjaga kualitas gizi, serta mengikuti standar dan regulasi yang berlaku, sehingga produk tetap aman dan bernilai gizi. Edukasi publik menjadi kunci penting untuk menurunkan risiko obesitas tanpa harus membatasi akses pangan. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dapat memilih pangan secara lebih bijak dan bertanggung jawab, serta berperan aktif dalam upaya mencegah obesitas,” ujar Puspo.

Komitmen Nutrifood sebagai produsen makanan dan minuman kesehatan juga mendukung upaya pencegahan obesitas di Indonesia melalui penyediaan produk yang aman, berkualitas, dan bernutrisi.
“Sebagai bagian dari solusi, Nutrifood secara konsisten menjalani kampanye #BatasiGGL melalui insiatif berkelanjutan, mulai dari inovasi produk, program edukasi literasi gizi, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak.” tutup Susana. (FA)











Comment